· Lentera Jiwa , (Author: Ison Subekti)
Jika kamu pernah melihat iklan “keju Kraft” pasti kamu mengenal Chef Bara; tapi tahukah kamu siapa Chef Bara? Dia adalah salah satu contoh orang yang kuliah karena semata-mata untuk menyenangkan orangtuanya. Orang tua Bara Pattirajawane adalah seorang diplomat, karena itu ia menginginkan anaknya mengikuti jejaknya, maka Bara Raoul Pattirajawane “diperintahkan” untuk memilih jurusan “Hubungan Internasional”. Rupanya “lentera jiwa” Bara bukan disitu, maka setelah lulus sebagai sarjana Hubungan Internasional dia menentukan jalannya sendiri yaitu mendalami bakatnya dalam hal “kuliner” dan menjadi sukses sebagai Chef yang terkenal dengan menu-menu kuenya yang memiliki cita rasa tinggi dan bertaraf internasional.
Serupa tapi tak sama, hal tersebut dialami pula oleh Wiliam Henry Gates II atau yang lebih kita kenal dengan sebutan Bill Gates si raja Microsoft. Ayahnya Bill Gates Jr. seorang Lawyer (Pengacara) terkenal pada masanya, karena itu dia menginginkan anaknya kuliah di Fakultas Hukum Universitas Harvard, untuk menyenangkan orang tuanya Bill Gates muda menurut tapi kemudian di Semester 6 dia tinggalkan Fakultas Hukum tersebut. Bersama temannya Paul Allen kemudian dia mendirikan Microsoft maka jadilah dia orang terkaya termuda di seantero jagat raya ini dan.. Harvardpun memberinya gelar Doktor!
Berbeda dengan Bara dan Bill Gates, Andy F Noya (yang terkenal dengan “Kick Andy”) dia lebih berani mengambil keputusan dengan segala resiko yang akan dihadapinya. Setelah lulus Sekolah Guru dia mendapat tawaran beasiswa untuk meneruskan ke IKIP Jakarta (sekarang UNJ) tapi Andy lebih memilih meneruskan ke Sekolah Tinggi Publisistik dengan resiko tidak lagi menerima bantuan dana dari kakaknya , artinya dia harus membiayai kuliahnya sendiri. Segala kesulitan dia tempuh dan akhirnya kita mengenal Andy F Noya sebagai jurnalis papan atas, dia meraih sukses sampai menjadi Pemimpin Redaksi Media Indonesia, dan naik lagi dengan memegang pucuk pimpinan di Metro TV sebagai Pemred meskipun di kemudian hari dia tinggalkan juga karena dia merasa Metro TV tidak cukup besar untuk mewadahi lentera jiwanya.
Ilustrasi di atas memberikan gambaran kepada kita yang terkadang tidak tepat menilai jalan sukses. Dalam paradigma masyarakat kita, Dokter dan Insinyur sampai saat ini masih menduduki ranking pertama sebagai ukuran sukses! Maka tak heran, ketika Didi Widiatmoko (yang kita kenal dengan nama Didi Petet) alumnus SMA 3 Bandung, yang selalu tercatat sebagai siswa cerdas, memilih Kuliah di LPKJ (sekarang IKJ) ketimbang ITB, banyak orang yang menilainya “gendeng”, tapi faktanya Didi Petet adalah orang sukses yang menempati papan atas dunia perfileman kita.
Beruntung calon-calon mahasiswa sekarang bisa dengan pasti menentukan pilihan universitas mana dan fakultas/jurusan apa yang akan dipilih sesuai lentera jiwanya, karena bisa mendapatkan akses informasi yang seluas-luasnya baik dari Bimbingan Belajar ataupun dari internet. Tidak akan lagi ada yang bingung membedakan Teknik Sipil dengan Arsitektur atau Teknik Kelautan dengan Oceanografi
Dimasa Bimbel belum banyak dan internet belum semarak banyak sekali mahasiswa yang memilih jurusan tanpa tahu apa yang akan dipelajari pada jurusan tersebut dan bagaimana prospeknya, sehingga banyak yang kuliah tidak sesuai dengan lentera jiwanya. Tak heran kalau Soetardji Kalzoum Bachri kemudian hengkang dari Sospol (sekarang FISIP) Unpad yang sudah ditekuninya selama empat tahun, kemudian dia lebih betah mengolah kata dan memproklamirkan dirinya sebagai Presiden Penyair Indonesia.
“Kaulah busur, dan anak-anakmulah anak panah yang melucur. Sang Pemanah mahatahu sasaran bidikan keabadian”. Penggalan puisi Khalil Gibran tersebut memberi makna kita sebagai orang tua sebaiknya mengarahkan, membentengi lentera jiwa anaknya, biarlah anak menentukan lentera jiwanya agar hidup yang dijalaninya penuh makna. Kita tentu tidak akan pernah menginginkan anak kita terombang-ambing dalam menentukan lentera jiwanya seperti yang diungkapkan oleh Nugie
lama sudah kumencari apa yang hendak kulakukan
sgala titik kujelajahi tiada satupun kumengerti
tersesatkah aku disamudra hidupku
kata-kata yang kubaca terkadang tak mudah kucerna
bunga-bunga dan rerumputan bilakah kau tahu jawabnya
inikah jalanku inikah takdirku
kubiarkan kumengikuti suara dalam hati
yang slalu membunyikan cinta
kupercaya dan kuyakini murninya nurani menjadi penunjuk jalanku
lentera jiwaku
Sukses adalah pilihan, apa yang terjadi pada diri kita saat ini adalah hasil dari perbuatan atau perilaku kita di masa lalu, maka korelasinya adalah apa yang ingin kita raih di depan terserah kita menentukan pilihannya, mau seperti apa atau mau menjadi apa tergantung kita sekarang berbuat apa dan bagaimana kita berbuat. Wallohu alam bishowab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar