makasih ya temen-temen,sudah mau berkunjung,,,,hehe oiya,,,skarang pindah alamat lho,,ke http://ceritasibayu.blogspot.com/

Pages

Selasa, 22 Februari 2011

Propil Mbah Maridjan


 
Mbah Maridjan (nama asli: Mas Penewu Suraksohargo; lahir di Dukuh Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman pada tahun 1927) adalah seorang juru kunci Gunung Merapi. Amanah sebagai juru kunci ini diperoleh dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Setiap Gunung Merapi akan meletus, warga setempat selalu menunggu komando dari beliau untuk mengungsi.

Ia mulai menjabat sebagai wakil juru kunci pada tahun 1970. Juru kunci pada saat itu adalah ayah Mbah Marijan. Jabatan sebagai juru kunci lalu ia sanda
ng sejak tahun 1982, setelah ayahnya wafat.

Sejak kejadian Gunung Merapi mau meletus tahun 2006, Mbah Maridjan semakin terkenal. Karena faktor keberanian dan namanya yang dikenal oleh masyarakat luas tersebut, Mbah Maridjan ditunjuk untuk menjadi bintang iklan salah satu produk minuman energi.

Keluarga
Istri Mbah Maridjan bernama Ponirah.
Mbah Maridjan mempunyai beberapa anak

    * Mbah Ajungan
    * Raden Ayu Surjuna
    * Raden Ayu Murjana
    * Raden Mas Kumambang

Mbah Ajungan menjadi penasihat presiden Sukarno tahun 1968-1969, kemudian menjadi wali Mangkunagara VIII tahun 1974-1987.

Sosok Mbah Maridjan
Mengenal sosok mbah marijan dulunya cuma dikenal oleh setiap pendaki gunung yang sering menjelajah Merapi. Pada tahun 2006, saat Merapi menunjukkan peningkatan aktivitas dan akhirnya meletus, namanya mencuat menjadi selebriti. Di sekitar tempat tinggalnya di Dusun Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta, mbah marijan adalah panutan. Warga di sekitar kediaman pria 83 tahun itu selalu menunggu komando mbah marijan terkait Merapi. Berikut jejak mbah marijan, suami Ponirah (73) yang memiliki 10 anak (5 diantaranya meninggal) ini selama menjaga Merapi. Berikut jejak suami Ponirah (73) yang memiliki 10 anak (5 di antaranya meninggal) ini selama menjaga Merapi dari tahun 2006:
17 April
mbah marijan mengaku belum mendapat firasat apa pun Merapi akan meletus. Dia juga meminta agar warga tidak takut dan khawatir secara berlebihan. Merapi mengeluarkan awan panas pada 15 Mei 2006.
16 Mei
Sehari setelah letusan, mbah marijan pergi ke puncak Merapi. Hingga Rabu 17 Oktober, mbah marijan yang kepergiannya didampingi dua pemuda itu belum juga kembali ke rumahnya. Tim SAR yang mendatangi rumah mbah marijan juga tidak mengetahui apa yang dilakukan Mbah mbah marijan di puncak Merapi. Saat itu, Merapi berstatus ‘awas’.
17 Mei
mbah marijan belum juga kembali ke rumah dengan selamat. 4 Orang akhirnya menyusulnya, namun hingga sore, keberadaan mbah marijan saat itu masih tetap misterius. Hari itu juga, Merapi beberapa kali memuntahkan awan panas.
18 Mei
mbah marijan akhirnya kembali ke rumahnya pada pukul 06.00 WIB. mbah marijan mengaku melakukan semedi di dekat puncak Merapi untuk meminta petunjuk agar warga di sekitar Merapi dihindarkan dari bahaya. mbah marijan juga mengaku mendapat wangsit bahwa Merapi tidak berbahaya. Sejak itu, mbah marijan makin terkenal, tamu yang ingin bertemu mbah marijan mulai dijadwal.
20 Mei
Awan panas terjadi sebanyak 24 kali dengan jarak luncur maksimum mencapai 3 kilometer. Semuanya dominan masuk ke hulu Kali Krasak Magelang dan Boyong Sleman.
21 Mei
mbah marijan mendapat tawaran menjadi bintang iklan untuk pertama kalinya. Saat itu, Kandatel Sekretaris Telkom Yogyakarta Tri Hartoyo yang bertamu di rumah mbah marijan menawarkan apakah Mbah Maridjan bersedia menjadi bintang iklan flexi. Saat itu, Mbah Maridjan menolak. “Saya tidak mau, saya mau jadi pelawak saja,” katanya waktu itu.
22 Mei
Mbah Maridjan topo bisu di rumahnya yakni keliling dusun dengan tidak berbicara sepatah kata pun. Saat itu, Merapi masih memuntahkan wedhus gembel meski tidak dalam jumlah besar. Meski sempat memuntahkan awan panas, status Merapi lambat laun turun
11 Juli
Mbah Maridjan benar-benar menjadi selebriti. Kuncen Merapi itu dikontrak oleh perusahaan jamu PT Sido Muncul untuk iklan minuman berenergi ‘Kuku Bima’. Saat itu, mbah marijan dikontrak bersama petinju Chris John.
23 November 2007
Munculnya Mbah Maridjan sebagai bintang iklan ‘Kuku Bima’ mendongkrak produksi produk tersebut. mbah marijan pun menjadi ikon produk dan menjadi bintang tamu di banyak acara. Salah satunya, mbah marijan didapuk untuk meresmikan perluasan pabrik Sido Muncul.
Tahun 2010
21 Oktober
Merapi berstatus siaga, aktivitas di daerah rawan bencana diminta dihentikan. Namun warga sekitar Merapi belum mengungsi, termasuk Mbah Maridjan.
25 Oktober
Nama mbah marijan kembali diperbincangkan setelah aktivitas Merapi meningkat tajam pada pertengahan bulan Oktober. Dan akhirnya statusnya menjadi ‘awas’ pada 25 Oktober. 2.260 orang diungsikan ke barak-barak yang telah disediakan. Namun mbah marijan tetap tidak mau turun gunung.
26 Oktober
Merapi meletus sekitar pukul 17.02 WIB. Tim SAR terus melakukan evakuasi warga. Puluhan warga tewas akibat awan panas dan gagal nafas. Posisi mbah marijan yang tak terlihat di lokasi pengungsian, menjadi misteri.
27 Oktober
00.05 WIB Tim evakuasi mendapat kabar mbah marijan ditemukan selamat tapi lemas. Dia masih di lereng Merapi, enggan turun ke pengungsian.
04.13 WIB Seorang relawan PMI yang semula berniat menjemput mbah marijan, turut menjadi korban tewas wedhus gembel bersuhu 500-600 derajat Celcius. Sedikitnya 16 mayat ditemukan di sekitar kediaman Mbah Maridjan.
06.34 WIB Tim evakuasi kembali menyisir di dusun mbah marijan untuk mencari korban tewas.
07.00 WIB Wakil Bupati Sleman menyebutkan bahwa ada mayat mirip Mbah Maridjan di RS Sardjito, Sleman, Yogyakarta.
07.3I WIB Tim evakuasi yang menyisir rumah Mbah Maridjan menyatakan, pihaknya telah menemukan jasad Mbah Maridjan dalam posisi sujud dapurnya. Baju batik, kopiah dan sarungnya menjadi modal utama untuk memastikan jenazah itu adalah Mbah Maridjan. Tes DNA pun dilakukan. Berarti kabar bahwa Mbah Maridjan selamat, terbantahkan.

Logika dan makna Hidup


Tak terasa air mata saya menetes saat membaca berita bahwa juru kunci Gunung Merapi yaitu Mbah Maridjan alias Mas Penewu Suraksohargo wafat dalam kondisi bersujud . Wafatnya beliau menambah daftar korban yang telah ditemukan meninggal akibat letusan (erupsi) Gunung Merapi, termasuk wartawan vivanews Yuniawan Nugroho.
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’uun.
Semoga ALLAH SWT menerima amal-ibadah Mbah Maridjan dan para korban lain. Termasuk pula para korban tsunami di Mentawai dan korban banjir di Wasior.
Terus terang, sebagai muslim, saya iri pada mbah Maridjan. Kenapa iri? Karena insya ALLAH, beliau wafat dalam keadaan syahid. Ini adalah kondisi husnul khotimah paling mulia dalam Islam. Tidak perlu berperang, namun bisa berarti pula gugur dalam mempertahankan akidah dan keyakinan. Dan bagi seorang muslim sejati, mati dalam kondisi seperti itu tentu merupakan sebuah ideal.
Dari pria kelahiran tahun 1927 itu pula kita bisa belajar arti hidup. Kesetiaan, keteguhan, kebersahajaan, hanya beberapa dari teladan yang diberikannya. Untuk kesetiaan, beliau jelas sangat setia pada tugasnya. Padahal, dari segi materi, apa yang didapatnya? Beliau jelas teguh pula dalam mengemban amanat yang diberikan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, raja Yogyakarta. Beliau bahkan menolak ketika putra Sultan IX -begitu beliau sering disebut- yaitu Sri Sultan Hamengkubuwono X yang juga Gubernur D.I. Yogyakarta memintanya turun gunung pada tahun 2006. Ketika itu, erupsi juga terjadi di Merapi sebagaimana terpantau oleh satelit NASA, hanya saja tidak menimbulkan korban jiwa seperti sekarang. Untuk kebersahajaan, siapa bisa membantah kalau beliau begitu bersahaja? Bahkan setelah menjadi bintang iklan Extra Joss pun beliau tetap tidak berubah. Itulah qona’ah dalam Islam. Insya ALLAH beliau memang termasuk dalam golongan “orang-orang yang beruntung”.
Ada pandangan, Mbah Maridjan bunuh diri dengan tetap berada di rumahnya saat warga sudah diungsikan. Saya tidak sependapat. Kalau begitu para sahabat yang maju menerjang musuh sendirian demi membela cucu Nabi S.A.W. di padang Karbala juga dapat dianggap sebagai tindakan bunuh diri. Bagi saya, logika Mbah Maridjan justru logika pemberani, logika seorang pemimpin atau nakhoda. Kalau Anda pernah menonton film Titanic (1997), yang didasarkan pada kisah nyata tenggelamnya kapal tersebut pada 14 April 1912, Anda akan melihat bahwa sang nakhoda tidak lari menyelamatkan diri dengan sekoci penyelamat. Ia harus merupakan orang terakhir yang keluar dari kapal. Karena justru banyak yang belum terangkut sekoci, maka ia dan para kru tetap bertahan hingga kapal tenggelam. Bahkan grup musik kapal itu terus bermain hingga kapal miring dan menceburkan mereka ke laut.
Begitu juga dengan Mbah Maridjan. Karena merasa tugasnya adalah “menjaga gunung Merapi”, maka ia tidak meninggalkannya meski yang dijaganya itu kemudian membinasakannya dengan awan panas atau lebih dikenal dengan “wedhus gembel”. Itu karena ia tahu masih ada warga desa yang bertahan dan karena itu ia tak mau meninggalkan mereka, juga desa tempat ia merasa “berhutang budi”. Maka, logika ilmiah dari para ahli tidak akan mampu menggoyahkan logika spiritual semacam ini, meski bisa jadi terasa konyol bagi kita yang mengagungkan pragmatisme hidup. Justru kepada keteguhan logika spiritual inilah kita yang merasa lebih pintar dan “orang kota” bisa belajar dari pribadi sederhana dan “wong ndeso” seperti Mbah Maridjan.
Selamat jalan Mbah, semoga kami bisa terus meneladani arti hidupmu.
Wa inna insyaa Allahu bikum laahiquuna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar